Ekonomi 

RENCANA AKSI MOGOK KARYAWAN PT .GARUDA INDONESIA(PERSERO) TBK MENUNTUT PEROMBAKAN DIREKSI

DAILYNEWSJAKARTA.COM,(02/05/2018)

Karyawan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang tergabung dalam Serikat Bersama Karyawan Garuda atau Sekarga mengancam melakukan aksi mogok kerja. Di duga hasil rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) bulan lalu jadi Pemicu Aksi tersebut , pasalnya dinilai tidak sesuai dengan kondisi Perusahaan.

Ahmad Irfan Nasution selaku Ketua Umum Sekarga mengatakan bahwa ancaman ini terkait hasil RUPS Garuda yang dinilai belum memenuhi tuntutan yang selama ini disuarakan. Dan keputusan RUPS belum memberikan harapan untuk memperbaiki kondisi perusahaan berkode emiten GIAA ini.
“Hasil RUPS tidak merepresentatif fitur Garuda Indonesia yang lebih baik. Kami karyawan/karyawati Garuda ingin menyampaikan kondisi keuangan perusahaan, membengkaknya jumlah direksi dan nilai terakhir saham GIAA,” papar Irvan dalam jumpa persnya di Pulau Dua Restauran, Jakarta, Rabu (2/5).
Ia menjelaskan selama ini telah terjadi banyak kegagalan di tubuh GIAA. Masih negatifnya kinerja keuangan GIAA sepanjang 2017 disebabkan akibat kegagalan manajemen.
Sepanjang 2017 GIAA menderita kerugian bersih (nett loss) USD 213,4 juta. Padahal, periode yang sama tahun sebelumnya Garuda untung USD 9,36 juta. Selain itu, Irfan menjelaskan terus menurunnya nilai saham GIAA dari Rp 750 per saham dari 2011 menjadi Rp 292 per saham per 25 April 2018.
Selain itu, Ia juga memaparkan kegagalan GIAA terkait sistem penjadwalan crew yang diimplementasikan pada 2017 lalu. Pembatalan ini berakibat pada penundaan penerbangan yang masih sering terjadi sampai saat ini.
“Ontime performance turun dari tahun 86,4% sekarang per 25 April minus 3,47%,” katanya.
Selain itu, ia mengkritisi adanya posisi Direktur Kargo karena dinilai tidak diperlukan. Sebab, GIAA tidak memiliki pesawat khusus kargo (freughter aircraft). Justru, menurut Irfan adanya Direktur Kargo hanya meningkatkan biaya organisasi.
Selanjutnya, ia juga menilai Direktur Personalia dinilai banyak mengeluarkan aturan yang bertentangan dengan perjanjian kerja bersama (PKB) tanpa membicarakan dengan serikat pekerja.
Untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi, Sekarga bersama Asosiasi Pilot Garuda (APG) mendesak manajemen GIAA segera merestrukturisasi jumlah Direksi GIAA dari 8 orang menjadi 6 orang. Sekarga juga mendesak pergantian direksi dengan mengutamakan profesional yang berasal dari internal GIAA.
“Besar harapan kami pemerintah atau pemegang saham dapat memenuhi permintaan tersebut jika tidak dipenuhi, maka dengan berat hati kami di waktu yang tepat akan melakukan aksi mogok,” tandasnya.

Untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi , Sekarga bersama Asosiasi Pilot Garuda (APG) mendesak manajemen GIAA untuk segera merestrukturisasi jumlah Direksi GIAA dari 8 orang menjadi 6 orang.
Sekarga juga mendesak pergantian direksi dengan mengutamakn peofesional yang berasal dari internal (Lelly)

Related posts

Leave a Comment