Politik 

METROPOLITAN YANG “MEMANUSIAKAN MANUSIA”

DAILYNEWSJAKARTA COM,(11/10/2018)

Draft Rancangan Undang Undang Undang (RUU) Metropolitan disusun untuk mewujudkan metropolitan yang Melingkar Wong ( memanusiakan manusia). Saat ini di Indonesia berkembang 21 kawasan metropolitan yang memiliki jumlah penduduk 114.100.000 yang setara dengan 43,06 penduduk Indonesia (dengan jumlah penduduk Indonesia 265.000.000) semantara itu di semua kawasan metropolitan selalu terjadi masalah yang sama, yaitu ketidakmerataan pembangunan antara kota Inti Metropolitan dan kota/kawasan Perkotaan sekitarnya.

 

Berbagai persoalan yang muncul dalam kawasan Metropolitan antara lain:
1. Ketidaksetaraan akses pelayanan publik antara Kota Inti dan Kota/Kawasan perkotaan sekitarnya.
2. Dampak buruk mekanisme pasar berupa polisasi modal pada daerah maju (kota Inti) dan backwash effect pada daerah sekitarnya, yang menimbulkan kesenjangan antar daerah.
3. Dampak lingkungan akibat tidak terkendali nya urbanisasi dan fenomena desakotasi pada daerah sekitarnya.

Selain itu Draf RUU Metropolitan juga diharapkan menjadi sarana aplikasi prinsip pembangunan berkelanjutan pada pbangunan metropolitan. RUU Metropolitan akan memayungi kerjasama antar daerah lewat kelembagaan metropolitan dan rencana induk kerjasama. Permasalahan metropolitan seperti transportasi dan gangguan lingkungan seperti banjir, diharapkan dapat tuntas dengan kerja sama ini.

Dengan RUU Metropolitan juga diharapkan integrasi kota kota dalam metropolitan dapat membuka peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat berpenghasilan rendah agar dapat berdaya dan mandiri, sehingga dampak lebih jauh lagi adalah terjadi benefit transfer dari kota Inti ke kota/kawasan perkotaan sekitar nya. Hal yang juga penting adalah terciptanya indentitas sebagai warga kota metropolitan yang menghormati keberagaman.

Sederhananya, jika RUU ini nantinya disahkan, pelayanan di “kota pinggiran” akan sama dengan kota Inti Metropolitan. Contohnya station kereta yang ada di Kota Tangsel dan Kota Tanggerang akan megah seperti station di Jakarta. Masyarakat tidak akan bilang lagi saya warga Ciputat (Tanggerang Selatan) ini sebagai orang yang tinggal di”Jakarta coret” karena RUU Metropolitan akan memastikan pelayanan yang setara.

Bukan hanya di bidang transportasi seperti kereta api, tol dan jalan, RUU Metropolitan juga mengamanatkan pelayanan pendidikan serta kesehatan tidak timpang antara kota Inti dan Kota sekitar nya, sehingga “masyarakat pinggiran” saat ini ngga perlu ke Jakarta untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu. Warga Jakarta juga tidak perlu pikir dua kali kalau pindah rumah ke Kabupaten Tanggerang misalnya, karena pelayanan bisa pemukiman sama saja di manapun dibagikan Metropolitan Jabodetabekjur. Ini akan mengurangi juga tekanan penduduk di kota Inti.

Usulan utama dalam RUU Metropolitan adalah munculnya City Manager, seorang profesional yang bertugas memperkecil ketimpangan pembangunan antara kota kota yang tergabung dalam metropolitan. Selama ini timbul kesenjangan dalam metropolitan kerena masing masing daerah dipimpin oleh kepala daerah yang masih dibebani oleh politik kota.

RUU Metropolitan mengusulkan para kepala daerah ini duduk satu meja dalam Dewan Komisaris Metropolitan yang secara bersama sama mengangkat seorang City Manager untuk mengelola kerjasama antar daerah. Skema kelembagaan semacam ini dipilih setelah mempelajari skema kelembagaan dari beberapa kota Metropolitan dunia, yaitu Tokyo-Jepang, Caljuta-India, Manila-Filipina, dan Vancouver- Kanada.

PSI sebagai pertanian anak muda yang progresif menggelar diskusi mengenai hal ini untuk menjaring aspirasi publik. Hasil diskusi menjadi masukan untuk Draf RUU Metropolitan yang telah kami susun. PSI memiliki intensitas untuk mengajak rakyat terlibat dalam perjalanan yusunan kebijakan. PSI berusaha memecahkan persoalan di masyarakat.(Lelly)

Related posts

Leave a Comment